Hari itu, Minggu, 18 Desember 2011 saya bersama seorang teman saya yang "antusias terhadap beladiri" (supaya ngga disebut freak) berangkat dari Jatinangor menuju destinasi idaman: Tempat berkumpulnya para jagoan beladiri se-Bandung Raya unjuk gigi.
Dengan semangat menggebu-gebu, berangkatlah kami berboncengan dengan menggunakan sepeda motor menuju lokasi. Dan dengan 1 jam melakukan trial and error memilih rute yang banyak ditutup akibat CFD. Sampailah kami di lokasi yang ternyata kami telah lewati beberapa kali (sucks isn't it?).
Kesan pertama saya di lokasi adalah: What the hell? ini ngga terlihat sebagai festival sama sekali. Tidak ada spanduk, banner, pedagang. Yang ada malah lukisan, lukisan, dan lukisan. Sempat terpikir bahwa kami sebenarnya salah lokasi. Tetapi karena saya kebetulan melihat sesosok wajah yang saya kenal masuk, ya dengan muka tidak bersalah saya ikut masuk juga.
Di dalam Galeri
Rumah Seni Ropih terletak di Jl Braga, kalau kita masuk dari Jl Naripan letaknya sekitar 100m dari simpang di sebelah kiri. Di dalamnya terdapat beberapa lukisan yang dipajang baik di dinding maupun di tegakkan di atas lantai dengan penyangga kayu atau lukisan lainnya.
Di ujung galeri terdapat sebuah pintu masuk kecil dengan 5 anak tanggal yang menuju ke bawah. dari sana, jalan terbagi menjadi dua: ke kiri bawah dan ke kanan atas. Berhubung orang yang saya ikuti mengambil jalan kiri bawah, ya, saya ikuti.
Sesampainya di lantai pertama dari tangga, saya dapat melihat beberapa orang berpakaian ala jet lee sedang duduk santai sambil menikmati makanan. Di ujung kiri ruangan terdapat hamparan matras puzzle berwarna biru sepanjang 10 kotak dan selebar 3 kotak. Di sebelah kanan ruangan, atau pas di hadapan saya ketika turun dari tangga terdapat jejeran foto-foto dokumentasi acara BMAF #1 yang diadakan tahun lalu.\
Tidak banyak kegiatan yang dilakukan di lantai ini, saya sempat berpikir: "apa sudah selesai ya?". Belum selesai saya menganalisa situasi, saya melihat di dinding yang berada di ujung matras sebuah video dengan beberapa orang menjelaskan teknik yang saya kemudian kenali sebagai "Guillotine Choke", suatu gerakan yang pernah saya pelajari di Brazillian Jiu Jitsu.
Pada saat kaki saya memasuki langkah ke 10 dari tangga, entah atas dorongan apa saya menoleh ke belakang dan menyadari bahwa festivalnya berada satu lantai di bawah lantai ini. dan dengan segera saya menuruni tangga dan mencari tempat duduk di lahan yang sangat sempit tersebut.
Festival
Segera setelah saya duduk di tepi matras, dengan hati yang riang (namanya juga freak) saya menikmati acara melupakan kesan-kesan buruk yang saya dapatkan sebelum acara.
Yang sedang memeragakan teknik adalah Synergy yang beraliran Brazillian Jiu Jitsu, memperagakan omoplata suatu kuncian bahu yang paling saya sukai sewaktu masih aktif di BJJ. Dilanjutkan dengan beberapa teknik-teknik dasar dan pada akhirnya sparring (atau di BJJ disebut rolling) yang dilakukan oleh dua petinggi Synergy Bandung.
Yang sedang memeragakan teknik adalah Synergy yang beraliran Brazillian Jiu Jitsu, memperagakan omoplata suatu kuncian bahu yang paling saya sukai sewaktu masih aktif di BJJ. Dilanjutkan dengan beberapa teknik-teknik dasar dan pada akhirnya sparring (atau di BJJ disebut rolling) yang dilakukan oleh dua petinggi Synergy Bandung.
***Penonton pun bertepuk tangan***
Acara dilanjutkan dengan penampilan dari Aikido "garis keras" -- Shudokan Aikido yang dipimpin oleh Mark Hadiardja Sensei. Gerakan-gerakan yang ditampilkan sangat tegas tetapi dengan tetap memperlihatkan kelembutan yang merupakan ciri khas aikido.
***Silat Perantau yang Pantang Menyerah***
Setelah penampilan Shudokan, kini giliran Silek Harimau, yaitu suatu beladiri bergenre silat yang berasal dari Solok, Sumatera Barat. Silat ini banyak menggunakan kuncian dan patahan dari berbagai posisi yang kurang menguntungkan bagi sebagian praktisi beladiri Jepang (terutama saya).
Performance tetap jalan walau tanpa musik pengiring yang menjadi ciri khas silat akibat kurangnya koordinasi dengan panitia. Bahkan, yang menampilkannya pun hanya 2 orang! Walau demikian performance mereka di atas rata-rata .Walaupun saya sadar betul, banyak orang yang menganggap hal ini kurang menarik, dan bahkan saya mendengar ada yang mencela mereka.
***Aikido Bandung Aiki Jutsu***
Pertunjukan seterusnya adalah dari Aikido Bandung Aiki Jutsu (Aikido BAJ). Mereka memperagakan teknik-teknik aikido yang menurut pandangan saya berciri khas Aikikai --mengalir dan sirkular-- dengan sedikit rasa yang berbeda. Jujur, menurut saya masih ada yang mengganjal dengan teknik-teknik yang ditampilkan, tapi siapa saya untuk menilai?
Atraksi berikutnya, seorang sensei ber-hakama mengambil kipas, dan memperagakan teknik-teknik aikido yang ia kembangkan yang menggunakan senjata kipas. Walau menurut saya kipasnya sama sekali tidak berpengaruh terhadap eksekusi teknik, bahkan kalau kipas itu diganti sendok juga tekniknya masih jalan. Dan diakhiri dengan futari gakke atau teknik dimana ada lebih dari satu penyerang menggenggam bagian tubuh sang sensei.
For this part, I am quite impressed.
For this part, I am quite impressed.
***Wushu***
Hanya satu kata: "KEREN"
belum pernah saya lihat secara langsung kelenturan badan semacam ini! Dan pada anak-anak yang 1/2 usiaku! Saya benar benar terkesima dengan teknik-tekniknya, yang walau masih kasar, tetapi menurut saya itu sudah sangat baik sekali untuk anak-anak di usia mereka.
Di akhir performance mereka, seorang anak kecil mungkin berumur 6-7 tahun memperagakan sebuah jurus wushu yang menurut saya "sempurna". Seperti halnya kata di karate, posturnya tegak, tenaga di pukulannya tegas, napasnya teratur, timingnya pas, bahkan saya dapat melihat flow gerakan dan makna gerakan-gerakannya. Bravo!!

kayaknya seru ya acaranya... sayang gak bisa liat langsung.
ReplyDeleteterima kasih sudah berbagi... :)