does it work?
setelah saya mendengar salah seorang kohai saya bertanya pertanyaan di atas, saya tergelitik untuk menulis pandangan saya mengenai "efektifkah beladiri yang kita pelajari selama ini?".
memang, ini pertanyaan yang klasik di berbagai disiplin beladiri (selanjutnya disebut MA). Kita sebagai praktisi pasti pernah beberapa kali ditanyakan, atau bahkan mempertanyakan hal yang serupa. Berhasilkah teknik ini dipakai di situasi nyata? Apakah serangan atau tangkisan yang kita lakukan efektif? atau yang lebih parah, bisakah saya merubuhkan "lawan" saya dengan sekali serangan tanpa mengalami cidera sama sekali? (percayalah, ini pernah ditanyakan pada saya).
jawabannya mungkin beragam, sebagian ada yang membela mati-matian MA-nya dengan memberi bukti dengan awalan katanya..., dulu..., guru besar kita/kami...., O Sensei kita dulu..., pernah..., dsb yang sebenarnya hanyalah pengulangan cerita dalam bentuk orang ke tiga, jarang ada yang memberikan pernyataan Saya dulu..., kemarin saya..., walaupun ada kita mungkin dapat dengan mudah mengetahui bahwa cerita tersebut dikarang on the spot atau asal-asalan, menyebabkan rasa kurang simpatik dari calon praktisi, atau praktisi junior dan menghilangkan kepercayaan mereka terhadap MA-nya sendiri.
sebagian menjawab semua tergantung praktisi, jawaban ini memang sedikit tricky. Sebab, sulit mengetahui secara pasti individu mana yang berhasil menerapkan MA-nya di dalam situasi sebenarnya.
di era globalisasi serba cepat dimana, Google, 3,5 G, Mie Instan, dan Doraemon dapat dengan segera memenuhi keinginan kita, hal serupa ternyata diterapkan pada MA. Zaman sekarang orang belajar MA seperti kursus komputer, ada kata Khatam di MA, membayar uang les karate/aikido/judo/silat dan berharap ilmunya dengan lengkap dan cepat. Sensei/guru hanya dianggap seperti pedagang jurus. Latihan cuma 3x seminggu, 1 atau 2 jam, kalau libur atau sibuk cuti dulu, lalu berangan-angan jadi Bruce Lee.
kebanyakan orang sudah tidak peduli lagi dengan akhiran Do di tiap MA-nya (Karate do, tae kwon do, ju do, aiki do, ken do, dsb). Bad news for them, ternyata teknik MA itu ambilnya harus satu paket dengan "prinsip-prinsip jalan hidup" nya. Boro-boro mengikuti jalan hidupnya, kebanyakan orang bahkan tidak tahu prinsip-prinsipnya apa saja.
oke, pembahasannya sudah sedikit off the track
kalau saya ditanya apakah MA-MA yang saya pelajari efektif? saya akan menjawab: "Yes, in their own way". Hanya ada sekitar 10% dari 100% teknik-teknik yang saya pelajari memang terbukti di situasi nyata. But, it doesn't prove that they are useless!.
saya contohkan di dalam karate, saya mempelajari karate do aliran Shotokan Ryu. Dimana kihon ditekankan pada kuda-kuda rendah dan gerakan yang patah-patah namun berdedikasi. "one hit kill" ibaratnya. Tetapi, di situasi nyata hanya orang gila yang benar-benar memakai zenkutsu dachi rendah seperti di latihan untuk membela diri. Selain mengurangi mobilitas, option teknik juga menjadi lebih sempit.
contoh lain di dalam aikido. Tidak akan ada dalam sejarahnya orang menyerang dengan menggunakan shomen uchi atau yokomen uchi, atau lebih parah ryotedori, mau ngapain memangnya? pop the question? "will you marry me?". Dude, that's just wrong!.
bagaimanapun fisik dan sense yang terasah di dalam latihan akan perlahan menampakkan diri. Kekuatan kaki dan kekokohan tubuh yang dilatih dalam latihan ber-kamae rendah akan terasa. Respons terhadap serangan akan berbeda --sebelum dan sesudah MA-- serangan dengan senjata akan mulai terlihat seperti yokomen uchi, dsb. Secara keseluruhan reaksi kita terhadap situasi akan jelas berbeda.
jadi, kalau ditanya lagi apakah MA berguna?
Yes, it does!
apakah MA berguna bagi diriku? Depends, have you trained long enough?
Comments
Post a Comment