Seperti judulnya, Kuro Obi (blackbelt) adalah sebuah film bertemakan beladiri. FIlm yang disutradarai Shunichi Nagasaki ini menampilkan beladiri Jepang yang paling mashyur -- Karate --.
Berlatar pada tahun 1932 saat Jepang menguasai Manchuria, beberapa oknum militer Jepang mulai menggusur dojo-dojo karate untuk kepentingan mereka sendiri. Di tengah-tengah gejolak tersebut, seorang master karate dari dojo Shibahara meneruskan sebuah tradisi turun temurun, yaitu menurunkan kuro obi kepada muridnya yang dianggap layak untuk meneruskan alirannya. Film ini dibintangi tiga orang yang merupakan praktisi karate di kehidupan nyata mereka.
Yagi Akihito, yang berperan sebagai Giryu, merupakan calon penerus dari Meibukan, sebuah cabang karate aliran Goju-Ryu. Kakek Yagi Akihito di kehidupan nyata merupakan murid langsung dari Chogun Miyagi, pendiri karate Goju Ryu. Yagi sekarang memegang godan (V-Dan) dan merupakan ketua International Meibukan Goju Ryu Karate Association serta memiliki dojo di daerah Naha, Okinawa.
Sedangkan yang bermain sebagai Taikan adalah Naka Tatsuya. Tatsuya merupakan seorang karate-ka dari aliran Shotokan dan saat ini memegang rokudan (VI-Dan) sebagai instruktur di Hombu Dojo JKA (Japan Karate Association/Nihon Karate Kyokai).
Tidak ada informasi mengenai yang memainkan Choei.
Dari sudut pandang saya sebagai praktisi karate, film ini menonjolkan perbedaan perspektif dan filosofi antara dua orang deshi dari sensei yang sama - Giryu yang berusaha mengikuti ajaran senseinya dengan tidak menyerang, dan Taikan yang lebih agresif. Perbedaan style karate di antara keduanya juga terlihat menonjol di film, Taikan dengan serangan-serangan ala Shotokan yang direct dan linear. Dan Giryu yang waza-nya didominasi oleh tangkisan-tangkisan yang bersifat lebih sirkular khas Goju Ryu.
Di sela-sela film menampilkan Taikan memainkan kata unsu, dan nijushi-ho di akhir film. Sedangkan Giryu melakukan sanchin di awal dan pertengahan film, sesaat setelah ia bertemu dengan "khayalan" senseinya, dan memainkan seipai di akhir film.
Dari sudut pandang saya sebagai praktisi karate, film ini menonjolkan perbedaan perspektif dan filosofi antara dua orang deshi dari sensei yang sama - Giryu yang berusaha mengikuti ajaran senseinya dengan tidak menyerang, dan Taikan yang lebih agresif. Perbedaan style karate di antara keduanya juga terlihat menonjol di film, Taikan dengan serangan-serangan ala Shotokan yang direct dan linear. Dan Giryu yang waza-nya didominasi oleh tangkisan-tangkisan yang bersifat lebih sirkular khas Goju Ryu.
Di sela-sela film menampilkan Taikan memainkan kata unsu, dan nijushi-ho di akhir film. Sedangkan Giryu melakukan sanchin di awal dan pertengahan film, sesaat setelah ia bertemu dengan "khayalan" senseinya, dan memainkan seipai di akhir film.
Film ini tidak menampilkan pertarungan akrobatik seperti tipikal film bertemakan beladiri lainnya dengan tetap menjaga originalitas gerakan-gerakan karate.
Berikut adalah dua buah kata yang dimainkan di akhir film, yang pertama adalah nijushi-ho oleh Taikan (Naka Tatsuya), dan kata yang kedua adalah seipai oleh Giryu (Yagi Akihito).
Berikut adalah dua buah kata yang dimainkan di akhir film, yang pertama adalah nijushi-ho oleh Taikan (Naka Tatsuya), dan kata yang kedua adalah seipai oleh Giryu (Yagi Akihito).

Kata yang dimainkan Naka Tatsuya di film ini selain Nijushiho bukan nya Meikyo ya? Maaf sebelumnya kalo saya keliru.
ReplyDelete