Buku yang bisa dikatakan 'kitab suci' untuk para praktisi karate, khususnya mereka yang beraliran Shotokan. Buku ini ditulis oleh Master Funakoshi Gichin (1868-1957), orang yang bertanggungjawab memperkenalkan karate dari Okinawa ke mainland Japan. Karate do Kyohan adalah Master Text yang menjelaskan secara rinci segala aspek yang diletakkannya di Shotokan.
Hal yang menarik adalah terdapatnya beberapa perbedaan yang mencolok antara praktek kekinian dengan teori dasar yang diletakkan oleh Funakoshi Sensei. Dimulai dari degadrasi bentuk-bentuk serangan yang dipraktekkan, hingga ke nilai-nilai do yang mulai menghilang, paling tidak di lingkungan sekitar penulis.
Funakoshi Sensei, di Karate do Kyohan menuliskan paling tidak 7 macam serangan yang dieksekusi oleh tangan -- seiken, ippon ken, shuto, uraken, hiraken, empi, nukite. Sedangkan dalam praktek modern, seorang praktisi biasanya hanya mengetahui 5 macam saja (seiken, shuto, uraken, empi dan nukite), dan yang dianggap penting hanya 2 (seiken dan shuto). Hal ini tidak lepas dari makin populernya karate sebagai olahraga (shiai) dan berkurangnya kesadaran pelatih untuk melatih aspek beladiri (jutsu) ataupun nilai-nilai (do) yang terdapat di karate.
Begitu halnya dengan te waza yang lain, seperti tangkisan (uke waza). Terdapat 7 tipe tangkisan fundamental yang diletakkan Funakoshi sensei--sukui uke, kake te, hiki te, harai te, kakae te, kakiwake, uchi te. Sebagian besar praktisi karate saat ini bahkan tidak mengetahui makna dari masing-masing tangkisan yang ditulis di atas.
Bagaimanapun itu, karate adalah sebuah seni beladiri yang akan selalu berkembang. Perkembangan karate selalu disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Saat ini, dimana kehidupan sudah relatif aman dan penekanan yang lebih terhadap prestasi individu, karate yang bersifat shiai atau kompetisi lebih diutamakan. hal ini tidak sepenuhnya salah, ataupun sepenuhnya benar.
Karate sebagai beladiri dan karate sebagai olahraga saat ini adalah dua buah aspek berbeda yang tidak dapat dipisahkan. One cannot survive without the other, bagaikan In-Yo, Yin dan Yang yang saling melengkapi.
Seorang praktisi karate seharusnya dapat menghasilkan prestasi bagi dirinya sendiri, dan juga dapat membela diri dengan benar di saat yang tepat. Teknik-teknik shiaii tidak dapat diaplikasikan ke pertarungan nyata, begitu juga sebaliknya. Alangkah baiknya seorang karate-ka memahami keduanya.
Seorang karateka juga seharusnya memiliki budi yang luhur, tidak tinggi hati, dan selalu menerapkan reisetsu, bersikap mushin, dan selalu berlaku adil.
Seorang karateka juga seharusnya memiliki budi yang luhur, tidak tinggi hati, dan selalu menerapkan reisetsu, bersikap mushin, dan selalu berlaku adil.

Comments
Post a Comment