Setelah beberapa hari yang lalu saya mengikuti beberapa diskusi daring (baca: online) di sebuah grup pengurus besar sebuah organisasi olahraga di Indonesia. Saya ternyata cukup kecewa dengan sikap beberapa praktisi beladiri yang menurut pribadi saya tidak menunjukkan sikap yang benar sebagai seorang martial artist.
Mushin (無心) secara harfiah berarti "tanpa pikiran", frase lengkapnya di ajaran Zen adalah Mushin no Shin (無心 の 心) atau 'pikiran tanpa pikiran (the mind without mind)'. Ini diibaratkan sebagai sikap seorang pemula yang di pikirannya masih polos, terbuka dan terbebas dari pemikiran-pemikiran seperti takut, marah, ataupun ego.
Pada dasarnya, segala sesuatu di sekitar kita adalah ilmu. Ilmu tidak harus berupa pengajaran langsung seperti layaknya hubungan guru dan murid di sekolah. Ilmu dapat diperoleh dari pengamatan, nasehat, maupun dari kritikan orang lain.
Seorang praktisi beladiri seharusnya tidak merasa bangga dengan apa yang dimilikinya, melainkan senantiasa sadar terhadap apa yang kurang dari dirinya. Pembelajaran itu dapat dilakukan dalam bentuk apa pun dan oleh siapa pun, tidak perduli yang mengajari berasal dari latar belakang apa.
Semua ilmu itu bersifat netral, tidak ada ilmu yang memiliki sifat bawaan baik atau buruk. Yang menentukan baik dan buruknya adalah ketika ilmu tersebut digunakan oleh yang telah menerima ilmu tersebut. Tugas seorang ksatria adalah dengan pikiran yang terbuka menerima informasi dengan rendah diri, kemudian melakukan penyaringan terhadap apa yang diterimanya sesuai dengan standar yang telah ada di dalam dirinya.

Comments
Post a Comment