Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Opini...

Di musim kampanye, propaganda-propaganda mulai berseliweran. Mulai dari propaganda resmi yang dikeluarkan instansi pemerintah, parpol, capres, hingga propaganda gelap yang dilancarkan untuk menggiring opini publik sesuai yang diinginkan sang pembuat propaganda. Propaganda, menurut KBBI adalah : pro·pa·gan·da n 1 penerangan (paham, pendapat, dsb) yg benar atau salah yg dikembangkan dng tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu: -- biasanya disertai dng janji yg muluk-muluk ; 2  reklame (spt menawarkan obat, barang dagangan, dsb): perusahaan itu giat melakukan -- produknya ; Jelas, propaganda adalah cara untuk melakukan doktrinasi kepada masyarakat ramai. Baik itu untuk hal-hal positif, ataupun tidak. Propaganda yang paling marak saat ini adalah penggiringan opini publik ke arah negatif, terutama ke lawan politik ataupun pemerintah. Beberapa isu propaganda negatif yang paling santer saat ini adalah isu mengenai Jasmev ...

(Ultra) Feminisme

Akhir-akhir ini di dunia maya aku sering melihat tren yang mengejutkan mengenai kesetaraan dan feminisme . Feminisme, adalah gerakan yang menuntut kesetaraan hak (dan seharusnya kewajiban juga) antara laki-laki dan perempuan. Istilah feminisme mulai digunakan pada tahun 1980-an mengikuti revolusi pemikiran anarkisme yang marak saat itu. Penganut feminisme saat ini menurutku terbagi atas dua kategori: (1) mereka yang benar-benar berjuang agar masyarakat (dan negara) mengakui adanya kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita sesuai dengan faktor-faktor objektif selain seksualitas; dan (2) mereka yang menuntut superioritas wanita di atas laki-laki. Aku menyebut kategori kedua ini sebagai ultra feminisme . Circumcision? You mean castration? Tipe kedua ini sama saja dengan fasisme modern. Kalau dulu fasisme berkaitan dengan ras - Jepang, Arya, Italia - saat ini, fasisme berusaha membagi-bagi gender. Memang, sebagai lelaki, harus aku akui, dulu fasisme semacam ini...

Novel Novel Trends...

Setelah beberapa waktu ini skimming  di Gramedia melihat-lihat buku yang belum tentu terbeli. Aku melihat sebuah tren menarik mengenai tema novel yang sedang laku saat ini. Di antara 10 novel dalam negeri yang aku perhatikan, ternyata semuanya berlatar luar negeri. Setengah di antaranya bahkan merupakan novel cinta yang 'religius'. Novel dari dulu memang umumnya bercerita tentang dua hal: cinta dan persahabatan. Akhir-akhir ini muncul tambahan baru untuk tema novel - religi - utamanya religi Islam. Mungkin dimulai dari Ayat-ayat cinta, tema novel religius ini semakin berkembang dan pada akhirnya mengalahkan kepopuleran tema novel lainnya. Ini terbukti dengan pilihan beberapa toko buku menyerahkan predikat buku "recommended" atau "top seller" kepada novel-novel semacam ini. Saat ini, ternyata sebuah pilihan setting baru menyusup kepada pilihan novel pembaca (dan pengarang). Yaitu - Luar Negeri. Sekitar 3-4 tahun yang lalu, cerita novel mulai merambah...

Bahasa Indonesia? (lagi)

Beberapa hari yang lalu, aku membuat tulisan mengenai kekhawatiran ku akan dikungkungnya Bahasa Indonesia oleh para puritan yang menginginkan Bahasa Indonesia kembali ke Bahasa Melayu (dapat dibaca lagi di sini ). Hari ini, aku kembali merenung mengenai: "siapakah yang sebenarnya bertugas menjaga keutuhan bahasa kita ini?". Berawal dari beberapa postingan di fan page  Bapak Presiden saat ini, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono yang menurutku tidak menggunakan bahasa yang baik, akupun mulai bertanya: "sampai mana bahasa itu bisa di-obrak-abrik ?". Apakah sampai bahasa tersebut tidak dapat dimengerti lagi oleh para pembicara nya?. Seperti yang mungkin diketahui secara umum, Bapak Presiden kita itu senang sekali mencampuradukkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam setiap pidato nya. There's nothing wrong with it , aku juga senang mencampur-campur bahasa, karena beberapa ideku ternyata dapat dilontarkan lebih baik dengan menggunakan bahasa asing. Walaup...

Belajar ikhlas, mengeja syukur...

Sebuah celotehan mengenai hal yang terjadi di sekelilingku akhir-akhir ini. Terdapat banyak sekali kejadian menarik yang menggugah iman dan perasaan. Semuanya terjadi begitu cepat dan seakan tidak memiliki jeda untuk bernapas diantaranya. Dibalik semua kejadian itu, aku menyadari sesuatu. Selama ini, sebuah hal kecil yang kurang dari banyak orang, terutama diriku sendiri adalah ikhlas . Ya, Ikhlas! Sesuatu yang begitu kecil, dan memiliki dampak yang luar biasa besar. Menurutku, masalah ikhlas ini hanyalah masalah sudut pandang saja. Orang yang kurang ikhlas cenderung pesimis, negatif, dan melihat sesuatu dari sisi buruknya. Tidak bisa menerima apa yang terjadi mungkin hal yang baik juga, untuk memotivasi diri agar tidak melakukan kecerobohan yang sama. Terlalu banyak, justru akan merusak diri sendiri. Perasaan kalut akibat kurang ikhlas menjadikan batin tidak menyadari betapa banyaknya karunia-Nya yang sebenarnya kita bisa nikmati, juga melupakan sejenak adanya rencana T...

Stuffs Online

With this age of open accessible information. It isn't that hard to find everything about a subject online. All it take is a single effort of opening your browser, be it on a smart phone or on a PC/Laptop. A quick type of a keyword, a single click, voila! All the information you need!? But wait, as easy it is for someone to find something online. It is as easy to actually post something too! Everything, from a simple opinion, to garbage of utter nonsense! People can actually post anything they want with any title they please without any filter whatsoever! I had a friend who wanted to find a (pirated?) novel online. She clicked and browse through a couple dozen websites, and found nothing but trash, spams, unrelated ads, and even, a downloader for a toolbar of God knows what! I'm not making any points here, just some random rants. But, somebody, somewhere need to do something about this. All these trashes online are actually dangerous! Who knows what kind of demonic evil thing ...

Bahasa Indonesia?

"Bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain."  [1]   Bahasa Indonesia pertama kali disebut demikian secara formal pada tanggal 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda I. Bagi yang belum tau, bisa dibaca lagi sejarahnya di sini . Bahasa menurut definisi Walija di atas adalah suatu set kelengkapan - verbal maupun non verbal yang bertujuan untuk mengungkapkan ide ke orang lain. Atau menurut Bolinger (1981), Bahasa memiliki system fonem, yang terbentuk dari distinctive features bunyi, system morfem dan sintaksis. Untuk mengungkapkan makna bahasa harus berhubungan dengan dunia luar. Yang dimaksud dengan dunia luar adalah dunia diluar bahasa termasuk dunia dalam diri penutur bahasa. Dunia dalam pengertian seperti ini disebut realita. Ya, saya memang bukan seseorang yang pekerjaan sehari-harinya meneliti bahasa, atau lulusan dari sekolah bahasa manapun. Tetapi saya paling tidak mengert...