"Bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain." [1]
Bahasa Indonesia pertama kali disebut demikian secara formal pada tanggal 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda I. Bagi yang belum tau, bisa dibaca lagi sejarahnya di sini.
Bahasa menurut definisi Walija di atas adalah suatu set kelengkapan - verbal maupun non verbal yang bertujuan untuk mengungkapkan ide ke orang lain. Atau menurut Bolinger (1981), Bahasa memiliki system fonem, yang terbentuk dari distinctive features bunyi, system morfem dan sintaksis. Untuk mengungkapkan makna bahasa harus berhubungan dengan dunia luar. Yang dimaksud dengan dunia luar adalah dunia diluar bahasa termasuk dunia dalam diri penutur bahasa. Dunia dalam pengertian seperti ini disebut realita.
Ya, saya memang bukan seseorang yang pekerjaan sehari-harinya meneliti bahasa, atau lulusan dari sekolah bahasa manapun. Tetapi saya paling tidak mengerti bahwa bahasa yang baik adalah bahasa yang dapat digunakan untuk mengungkapkan informasi secara utuh, serta dapat ditangkap dengan utuh pula oleh sang penerima.
Ya, saya memang bukan seseorang yang pekerjaan sehari-harinya meneliti bahasa, atau lulusan dari sekolah bahasa manapun. Tetapi saya paling tidak mengerti bahwa bahasa yang baik adalah bahasa yang dapat digunakan untuk mengungkapkan informasi secara utuh, serta dapat ditangkap dengan utuh pula oleh sang penerima.
Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu dialek Riau. Saya paham itu, lantas tidak serta merta Bahasa Melayu adalah Bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Bahasa Indonesia dapat dianggap sebagai varian dari Bahasa Melayu.
Saat ini, ada kecenderungan di kalangan akademisi dan penggiat bahasa untuk mengembalikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Melayu dengan merujuk kepada standar yang telah ditentukan oleh Pertubuhan Persuratan Melayu atau lembaga yang sejenis. Mereka beranggapan Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu "kotor" yang harus kembali dimurnikan kembali ke hakikatnya - sebagai Bahasa Melayu.
Argumen lain yang sering saya dengar adalah Bahasa Indonesia adalah "Bahasa Politik" untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme bangsa ini. Dan sebenarnya tidak ada istilah "Bahasa Indonesia", yang ada hanyalah "Bahasa Melayu Dialek Riau".
Mungkin saya harus sedikit mengungkapkan pendapat saya mengenai hal ini. Bahasa, adalah sebuah hasil budaya yang dinamis. Bahasa selalu berkembang, dari bentuk yang satu, ke bentuk yang lainnya sesuai dengan kebutuhan kontemporer.
Sebagai contoh: istilah umum yang dipakai saat ini adalah "online" atau "daring (dalam jaringan)". Istilah ini muncul di satu dekade terakhir untuk mengakomodasi kebutuhan akan istilah tersebut. Kemudian ada istilah-istilah serapan yang muncul di bahasa akibat akulturasi, yaitu ketika budaya awal diperkenalkan suatu kebudayaan baru yang tidak dimilikinya. Maka istilah asing dari budaya awal tersebut dipinjam dan akhirnya menjadi bagian dari bahasa yang dipakai sehari-hari. Banyak contoh untuk kasus ke dua ini: Agama, Matematika, bahkan tata huruf yang dipakai di dalam tulisan ini - alfabet - merupakan hasil budaya asing yang diserap dan kemudian dijadikan budaya lokal. Atau perubahan makna: Bapak, yang awalnya digunakan sebagai kata sapaan orangtua laki-laki, saat ini meluas kepada kata sapaan untuk lelaki yang dihormati akibat kurangnya istilah untuk hal yang dimaksud. Jadi, budaya bahasa berkembang sesuai dengan kebutuhan budaya tersebut.
Kembali ke pokok permasalahan. Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu dialek Riau yang kemudian disisipkan kata-kata dari budaya lain se-Indonesia. Hal ini menjadikan Bahasa Indonesia menjadi varian tersendiri dari Bahasa Melayu atau malah berkembang menjadi bahasa tersendiri. Tidak adil apabila kata-kata di Bahasa Indonesia ditinjau ulang agar sesuai dengan Bahasa Melayu.
Penggunaan kata-kata di Bahasa Indonesia haruslah ditinjau dari efektivitas penggunaan istilah dalam konteks pergaulan sehari-hari. Bukan memaksakan kata yang benar-benar asing kepada khalayak pengguna demi kesesuaian yang sebenarnya malah membuat bingung pembicara.
Sekali lagi, ini hanyalah bualan seorang penutur bahasa Melayu Riau yang sedang kebingungan.
[1] Walija. 1996. Bahasa Indonesia dalam Perbincangan. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press.
[1] Walija. 1996. Bahasa Indonesia dalam Perbincangan. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press.

Comments
Post a Comment