Skip to main content

Bahasa Indonesia? (lagi)

Beberapa hari yang lalu, aku membuat tulisan mengenai kekhawatiran ku akan dikungkungnya Bahasa Indonesia oleh para puritan yang menginginkan Bahasa Indonesia kembali ke Bahasa Melayu (dapat dibaca lagi di sini). Hari ini, aku kembali merenung mengenai: "siapakah yang sebenarnya bertugas menjaga keutuhan bahasa kita ini?".

Berawal dari beberapa postingan di fan page Bapak Presiden saat ini, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono yang menurutku tidak menggunakan bahasa yang baik, akupun mulai bertanya: "sampai mana bahasa itu bisa di-obrak-abrik?". Apakah sampai bahasa tersebut tidak dapat dimengerti lagi oleh para pembicara nya?.

Seperti yang mungkin diketahui secara umum, Bapak Presiden kita itu senang sekali mencampuradukkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam setiap pidato nya. There's nothing wrong with it, aku juga senang mencampur-campur bahasa, karena beberapa ideku ternyata dapat dilontarkan lebih baik dengan menggunakan bahasa asing.

Walaupun demikian, ketika seorang pejabat publik melakukannya, masalah ini menurutku menjadi tidak pantas. Mengapa? Karena seorang Presiden tidak hanya berbicara kepada dirinya sendiri (seperti aku yang menulis walaupun tidak ada yang baca T.T), beliau berbicara kepada seluruh warga Negara Indonesia - dari yang berpendidikan tinggi, sampai yang belum pernah lulus sekolah!. Apakah pantas kemudian seorang Presiden memperkosa bahasa sendiri di depan rakyatnya?

Bahasa diciptakan untuk dapat menyampaikan ide kepada orang lain secara efektif. Ini tidak berlaku kalau lawan bicara nya tidak dapat mengerti apa yang dikatakannya. Di sana lah Bahasa Indonesia baku sebagai Bahasa Persatuan menunjukkan peranannya. Bahasa Indonesia harus dapat dijadikan sebagai bahasa bersama yang dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat.

Aku terkadang kecewa terhadap para tokoh dan media yang dengan seenaknya melanggar kesepakatan mengenai bahasa yang baik. Bahasa selalu berkembang, benar! Tetapi tidak serta-merta mengubah bahasa tersebut tanpa ada upaya untuk menjaga keutuhannya, kan?. Para pejabat publik dan media adalah rujukan pertama masyarakat untuk dapat memahami cara berbahasa yang baik. Apa yang terjadi apabila masyarakat mencontoh cara berbahasa pejabat dan media yang tidak senonoh itu? Lama kelamaan seluruh tatanan Bahasa Indonesia harus dirombak kembali menyesuaikan dengan kebutuhan akan bahasa persatuan yang baru.

Menurutku, berbahasa yang baik harus dimulai dari atas - Pejabat publik. Kemudian berlanjut ke bawah, terutama oleh media, karena media bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sekarang entah kenapa, terdapat 'cara pengejaan baru' yang dilakukan oleh media. Contoh paling aneh menurutku adalah kata "CINA". Aku tidak berusaha menjadi rasis atau bersikap diskriminatif, tetapi menghormati Bahasa Indonesia berarti menaati cara pengejaan baku yang telah ditetapkan.

Kata Cina dieja sebagai C-i-n-a, dibaca sesuai dengan ejaannya. Sekarang, apa yang terjadi? Cina dibaca Chaina! Apakah ini usaha media untuk melucu? Aku tidak mengerti. Atau, apakah ada perubahan rahasia di KBBI mengenai perubahan ejaan Cina yang hanya diketahui awak media dan Zionis Israel?. Hal ini sangat mengganggu ku, bagaimana kalau nantinya masyarakat mulai mempertanyakan pengejaan lainnya, dan kemudian membaca ejaan-ejaan kata lain seenak hatinya? Bayangken!

Peranan menjaga bahasa adalah tugas semua warga negara, tetapi tidak berarti kalau yang menyiarkannya tidak berusaha melakukan hal yang sama.

Comments

Popular posts from this blog

how I feel about writing

writ·ing ˈrÄ«diNG/ noun 1 . the activity or skill of marking coherent words on paper and composing text. "parents want schools to concentrate on reading, writing, and arithmetic" Hello everyone! (like anyone would read this anyway!). It has been a long time since I posted anything here. Man, I even forgot the URL for this! haha!. I think my writing skills also dropped a few levels. You see, I've been observing what has been happening all around me for the past two years. I even took a peek at some foreign issues ( I was only focusing on the Middle East back then, I now look at some things in Europe and US too). I peeked at some writings that are floating around the internet and printed materials (for my research on global issues), and found something interesting: Most of them are basing their sources on a rather unreliable source: blogs and opinion articles! So I did some research on the matter (obviously). What I found was even sho...

Shorinjiryu Kenkokan Karate -- love at second punch!

It all began when I got a text from a friend of mine which sounded a bit like "Hey! There will be a Karate Instructor willing coming here on Saturday!" which got me all exited! I then spent 6 hours trying to figure out who and from what Ryuha he is. Late at night, I got a reply that stated that an instructor named Hisataka Hiroshi will be instructing. Without delay I then googled the name up and trying to find any information about him and whatever information correlated to him. Well, what I found is rather intriguing: an Okinawan Karate Instructor, holding 6th dan (later I found out, he is actually an 8th) with a surname similar to the founder of the style: Hisataka Kori , I'm guessing he is the grandson (and heard about it too!), but I haven't found any information to verify this. I tried to contact my karate friends, but all of them are too scared or embarrassed to come. So in the end I text-ed my Aikido buddies, and one of them is excited to come an...

Kuro Obi -- sudut pandang seorang praktisi karate

Seperti judulnya, Kuro Obi (blackbelt) adalah sebuah film bertemakan beladiri. FIlm yang disutradarai Shunichi Nagasaki ini menampilkan beladiri Jepang yang paling mashyur -- Karate --. Berlatar pada tahun 1932 saat Jepang menguasai Manchuria, beberapa oknum militer Jepang mulai menggusur dojo-dojo karate untuk kepentingan mereka sendiri. Di tengah-tengah gejolak tersebut, seorang master karate dari dojo Shibahara  meneruskan sebuah tradisi turun temurun, yaitu menurunkan kuro obi  kepada muridnya yang dianggap layak untuk meneruskan alirannya. Film ini dibintangi tiga orang yang merupakan praktisi karate di kehidupan nyata mereka. Yagi Akihito , yang berperan sebagai Giryu, merupakan calon penerus dari Meibukan , sebuah cabang karate aliran Goju-Ryu. Kakek Yagi Akihito di kehidupan nyata merupakan murid langsung dari Chogun   Miyagi , pendiri karate Goju Ryu . Yagi sekarang memegang godan (V-Dan) dan merupakan ketua International Meibukan Goju Ryu Kara...