Skip to main content

Belajar ikhlas, mengeja syukur...

Sebuah celotehan mengenai hal yang terjadi di sekelilingku akhir-akhir ini. Terdapat banyak sekali kejadian menarik yang menggugah iman dan perasaan. Semuanya terjadi begitu cepat dan seakan tidak memiliki jeda untuk bernapas diantaranya.

Dibalik semua kejadian itu, aku menyadari sesuatu. Selama ini, sebuah hal kecil yang kurang dari banyak orang, terutama diriku sendiri adalah ikhlas. Ya, Ikhlas! Sesuatu yang begitu kecil, dan memiliki dampak yang luar biasa besar.

Menurutku, masalah ikhlas ini hanyalah masalah sudut pandang saja. Orang yang kurang ikhlas cenderung pesimis, negatif, dan melihat sesuatu dari sisi buruknya. Tidak bisa menerima apa yang terjadi mungkin hal yang baik juga, untuk memotivasi diri agar tidak melakukan kecerobohan yang sama. Terlalu banyak, justru akan merusak diri sendiri. Perasaan kalut akibat kurang ikhlas menjadikan batin tidak menyadari betapa banyaknya karunia-Nya yang sebenarnya kita bisa nikmati, juga melupakan sejenak adanya rencana Tuhan untuk diri kita.

Untuk menjadi ikhlas, aku dapatkan dari orang tuaku, mereka cenderung terbuka dan santai menghadapi masalah-masalah yang terjadi. Mereka selalu mengingatkan bahwa kesempatan dan musibah itu rahasia-Nya. Hanya dengan menerima itu, hidup akan terasa lebih indah seakan beban yang besar terangkat dari pundak kita.

Tentang kesialan atau apalah namanya yang terjadi, biarpun akibat perbuatan orang lain menurutku bukanlah alasan untuk mengutuk, mencerca, menyuruh Allah untuk membalaskan dendam kita kepadanya. Tahap pertama adalah menerima bahwa hal tersebut sudah terjadi. Sesuatu yang telah terjadi tidak akan dapat diulang kembali. Menyesal juga percuma, yang bisa kita lakukan hanyalah memandang ke depan untuk memikirkan: "apakah langkah selanjutnya yang harus diambil untuk situasi seperti ini?". Mengutuk memang lebih mudah, tetapi masalah tidak akan selesai dengan hanya mengutuk. Pada akhirnya akan tetap kembali ke tahap penerimaan  ini. So, save the trouble. Just skip the cursing and regretting part already! Kalau kata anak alay sekarang itu - move on.

Tahap selanjutnya adalah berusaha mengganti sudut pandang terhadap masalah seakan-akan kita yang sedang memberi nasehat kepada orang lain. Memberi nasehat itu mudah, lakukan itu! Hanya saja ganti subjek nya menjadi diri anda sendiri. Aku yakin kita pasti dapat memikirkan nasehat yang baik untuk diri sendiri. Ini sekalian belajar untuk tidak memberikan nasehat "asal keren" yang sulit dilaksanakan kepada orang lain.

Tahap ketiga adalah mendoakan. Yang baik-baik tentunya! Contoh saja ketika mengalami kecurian, yakin lah, pencuri juga manusia. Pasti ada alasan yang baik baginya untuk mencuri! Apabila kita mengutuk uang atau barang yang dicuri tersebut, dan hasil pencurian itu diberikan kepada anak atau istrinya. Apakah kita mau turut merasa bertanggungjawab atas keburukan yang mungkin akan menimpa mereka? Atau, menyumpah sang pencuri akan sakit keras, atau penyakit aneh lainnya. Bukankah itu sama saja dengan bertemu dengan maling secara langsung dan seketika menghajar maling sampai setengah mati? Ada untungnya? Barang tidak kembali, ada orang lain yang mengalami kemalangan!
Tragis sekali! Gara-gara barang yang tidak seberapa, kemungkinan satu keluarga merana.

Ikhlas itu, melihat gelas bukan setengah kosong atau setengah penuh. Tetapi menerima ada 1/2 gelas air dan 1/2 gelas udara di dalamnya.

Comments

Popular posts from this blog

how I feel about writing

writ·ing ˈrÄ«diNG/ noun 1 . the activity or skill of marking coherent words on paper and composing text. "parents want schools to concentrate on reading, writing, and arithmetic" Hello everyone! (like anyone would read this anyway!). It has been a long time since I posted anything here. Man, I even forgot the URL for this! haha!. I think my writing skills also dropped a few levels. You see, I've been observing what has been happening all around me for the past two years. I even took a peek at some foreign issues ( I was only focusing on the Middle East back then, I now look at some things in Europe and US too). I peeked at some writings that are floating around the internet and printed materials (for my research on global issues), and found something interesting: Most of them are basing their sources on a rather unreliable source: blogs and opinion articles! So I did some research on the matter (obviously). What I found was even sho...

Shorinjiryu Kenkokan Karate -- love at second punch!

It all began when I got a text from a friend of mine which sounded a bit like "Hey! There will be a Karate Instructor willing coming here on Saturday!" which got me all exited! I then spent 6 hours trying to figure out who and from what Ryuha he is. Late at night, I got a reply that stated that an instructor named Hisataka Hiroshi will be instructing. Without delay I then googled the name up and trying to find any information about him and whatever information correlated to him. Well, what I found is rather intriguing: an Okinawan Karate Instructor, holding 6th dan (later I found out, he is actually an 8th) with a surname similar to the founder of the style: Hisataka Kori , I'm guessing he is the grandson (and heard about it too!), but I haven't found any information to verify this. I tried to contact my karate friends, but all of them are too scared or embarrassed to come. So in the end I text-ed my Aikido buddies, and one of them is excited to come an...

Kuro Obi -- sudut pandang seorang praktisi karate

Seperti judulnya, Kuro Obi (blackbelt) adalah sebuah film bertemakan beladiri. FIlm yang disutradarai Shunichi Nagasaki ini menampilkan beladiri Jepang yang paling mashyur -- Karate --. Berlatar pada tahun 1932 saat Jepang menguasai Manchuria, beberapa oknum militer Jepang mulai menggusur dojo-dojo karate untuk kepentingan mereka sendiri. Di tengah-tengah gejolak tersebut, seorang master karate dari dojo Shibahara  meneruskan sebuah tradisi turun temurun, yaitu menurunkan kuro obi  kepada muridnya yang dianggap layak untuk meneruskan alirannya. Film ini dibintangi tiga orang yang merupakan praktisi karate di kehidupan nyata mereka. Yagi Akihito , yang berperan sebagai Giryu, merupakan calon penerus dari Meibukan , sebuah cabang karate aliran Goju-Ryu. Kakek Yagi Akihito di kehidupan nyata merupakan murid langsung dari Chogun   Miyagi , pendiri karate Goju Ryu . Yagi sekarang memegang godan (V-Dan) dan merupakan ketua International Meibukan Goju Ryu Kara...