Dibalik semua kejadian itu, aku menyadari sesuatu. Selama ini, sebuah hal kecil yang kurang dari banyak orang, terutama diriku sendiri adalah ikhlas. Ya, Ikhlas! Sesuatu yang begitu kecil, dan memiliki dampak yang luar biasa besar.
Menurutku, masalah ikhlas ini hanyalah masalah sudut pandang saja. Orang yang kurang ikhlas cenderung pesimis, negatif, dan melihat sesuatu dari sisi buruknya. Tidak bisa menerima apa yang terjadi mungkin hal yang baik juga, untuk memotivasi diri agar tidak melakukan kecerobohan yang sama. Terlalu banyak, justru akan merusak diri sendiri. Perasaan kalut akibat kurang ikhlas menjadikan batin tidak menyadari betapa banyaknya karunia-Nya yang sebenarnya kita bisa nikmati, juga melupakan sejenak adanya rencana Tuhan untuk diri kita.
Untuk menjadi ikhlas, aku dapatkan dari orang tuaku, mereka cenderung terbuka dan santai menghadapi masalah-masalah yang terjadi. Mereka selalu mengingatkan bahwa kesempatan dan musibah itu rahasia-Nya. Hanya dengan menerima itu, hidup akan terasa lebih indah seakan beban yang besar terangkat dari pundak kita.
Tentang kesialan atau apalah namanya yang terjadi, biarpun akibat perbuatan orang lain menurutku bukanlah alasan untuk mengutuk, mencerca, menyuruh Allah untuk membalaskan dendam kita kepadanya. Tahap pertama adalah menerima bahwa hal tersebut sudah terjadi. Sesuatu yang telah terjadi tidak akan dapat diulang kembali. Menyesal juga percuma, yang bisa kita lakukan hanyalah memandang ke depan untuk memikirkan: "apakah langkah selanjutnya yang harus diambil untuk situasi seperti ini?". Mengutuk memang lebih mudah, tetapi masalah tidak akan selesai dengan hanya mengutuk. Pada akhirnya akan tetap kembali ke tahap penerimaan ini. So, save the trouble. Just skip the cursing and regretting part already! Kalau kata anak alay sekarang itu - move on.
Tentang kesialan atau apalah namanya yang terjadi, biarpun akibat perbuatan orang lain menurutku bukanlah alasan untuk mengutuk, mencerca, menyuruh Allah untuk membalaskan dendam kita kepadanya. Tahap pertama adalah menerima bahwa hal tersebut sudah terjadi. Sesuatu yang telah terjadi tidak akan dapat diulang kembali. Menyesal juga percuma, yang bisa kita lakukan hanyalah memandang ke depan untuk memikirkan: "apakah langkah selanjutnya yang harus diambil untuk situasi seperti ini?". Mengutuk memang lebih mudah, tetapi masalah tidak akan selesai dengan hanya mengutuk. Pada akhirnya akan tetap kembali ke tahap penerimaan ini. So, save the trouble. Just skip the cursing and regretting part already! Kalau kata anak alay sekarang itu - move on.
Tahap selanjutnya adalah berusaha mengganti sudut pandang terhadap masalah seakan-akan kita yang sedang memberi nasehat kepada orang lain. Memberi nasehat itu mudah, lakukan itu! Hanya saja ganti subjek nya menjadi diri anda sendiri. Aku yakin kita pasti dapat memikirkan nasehat yang baik untuk diri sendiri. Ini sekalian belajar untuk tidak memberikan nasehat "asal keren" yang sulit dilaksanakan kepada orang lain.
Tahap ketiga adalah mendoakan. Yang baik-baik tentunya! Contoh saja ketika mengalami kecurian, yakin lah, pencuri juga manusia. Pasti ada alasan yang baik baginya untuk mencuri! Apabila kita mengutuk uang atau barang yang dicuri tersebut, dan hasil pencurian itu diberikan kepada anak atau istrinya. Apakah kita mau turut merasa bertanggungjawab atas keburukan yang mungkin akan menimpa mereka? Atau, menyumpah sang pencuri akan sakit keras, atau penyakit aneh lainnya. Bukankah itu sama saja dengan bertemu dengan maling secara langsung dan seketika menghajar maling sampai setengah mati? Ada untungnya? Barang tidak kembali, ada orang lain yang mengalami kemalangan!
Tragis sekali! Gara-gara barang yang tidak seberapa, kemungkinan satu keluarga merana.
Ikhlas itu, melihat gelas bukan setengah kosong atau setengah penuh. Tetapi menerima ada 1/2 gelas air dan 1/2 gelas udara di dalamnya.

Comments
Post a Comment