Skip to main content

(Ultra) Feminisme

Akhir-akhir ini di dunia maya aku sering melihat tren yang mengejutkan mengenai kesetaraan dan feminisme. Feminisme, adalah gerakan yang menuntut kesetaraan hak (dan seharusnya kewajiban juga) antara laki-laki dan perempuan. Istilah feminisme mulai digunakan pada tahun 1980-an mengikuti revolusi pemikiran anarkisme yang marak saat itu.

Penganut feminisme saat ini menurutku terbagi atas dua kategori: (1) mereka yang benar-benar berjuang agar masyarakat (dan negara) mengakui adanya kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita sesuai dengan faktor-faktor objektif selain seksualitas; dan (2) mereka yang menuntut superioritas wanita di atas laki-laki. Aku menyebut kategori kedua ini sebagai ultra feminisme.

Circumcision? You mean castration?
Tipe kedua ini sama saja dengan fasisme modern. Kalau dulu fasisme berkaitan dengan ras - Jepang, Arya, Italia - saat ini, fasisme berusaha membagi-bagi gender. Memang, sebagai lelaki, harus aku akui, dulu fasisme semacam ini berlaku kebalikannya: lelaki berusaha menonjolkan diri sebagai gender yang lebih superior; saat ini para ultra feminis berusaha untuk membalikkan status tersebut.

Para ultra feminis ini melukai perjuangan para feminis yang memang berusaha mencari kesetaraan hak dan kewajiban antar gender. Para ultra feminis senantiasa meminta hak yang sama-bahkan lebih, tanpa mengakui kewajiban yang sama. Mungkin benar anekdot yang berkeliaran saat ini: Yang lebih berkuasa dari pada Jenderal adalah istri Jenderal!.

Bagi yang tidak percaya tentang apa yang aku tuliskan, bisa dibaca beberapa petikan dari seorang tokoh feminisme terkenal di sini, dan ini, serta kutipan dari para tokoh ultra feminisme di sini. Atau lihat gerakan anti ultra feminisme serupa di facebook.

Sesuatu yang tabu saat ini adalah menyuarakan kesetaraan hak dan kewajiban pria. Sama seperti kasus rasisme di negara barat, menyuarakan hak dan kewajiban kaum mayoritas adalah tindakan yang tidak terpuji. Padahal, saat ini mayoritaslah yang sedang tertindas oleh minoritas. Dan, di dunia ultra feminis di mana mereka senantiasa merasa ditekan oleh para lelaki, lelaki lah yang sebenarnya sedang tertindas.

Beruntunglah di Indonesia gerakan ultra feminisme ini belum banyak bergerak, karena akan menjadikan negara ini mundur dan terbalik kembali ke masa lalu disaat kita baru mulai beranjak ke depan.

Comments

Popular posts from this blog

how I feel about writing

writ·ing ˈrÄ«diNG/ noun 1 . the activity or skill of marking coherent words on paper and composing text. "parents want schools to concentrate on reading, writing, and arithmetic" Hello everyone! (like anyone would read this anyway!). It has been a long time since I posted anything here. Man, I even forgot the URL for this! haha!. I think my writing skills also dropped a few levels. You see, I've been observing what has been happening all around me for the past two years. I even took a peek at some foreign issues ( I was only focusing on the Middle East back then, I now look at some things in Europe and US too). I peeked at some writings that are floating around the internet and printed materials (for my research on global issues), and found something interesting: Most of them are basing their sources on a rather unreliable source: blogs and opinion articles! So I did some research on the matter (obviously). What I found was even sho...

Shorinjiryu Kenkokan Karate -- love at second punch!

It all began when I got a text from a friend of mine which sounded a bit like "Hey! There will be a Karate Instructor willing coming here on Saturday!" which got me all exited! I then spent 6 hours trying to figure out who and from what Ryuha he is. Late at night, I got a reply that stated that an instructor named Hisataka Hiroshi will be instructing. Without delay I then googled the name up and trying to find any information about him and whatever information correlated to him. Well, what I found is rather intriguing: an Okinawan Karate Instructor, holding 6th dan (later I found out, he is actually an 8th) with a surname similar to the founder of the style: Hisataka Kori , I'm guessing he is the grandson (and heard about it too!), but I haven't found any information to verify this. I tried to contact my karate friends, but all of them are too scared or embarrassed to come. So in the end I text-ed my Aikido buddies, and one of them is excited to come an...

Kuro Obi -- sudut pandang seorang praktisi karate

Seperti judulnya, Kuro Obi (blackbelt) adalah sebuah film bertemakan beladiri. FIlm yang disutradarai Shunichi Nagasaki ini menampilkan beladiri Jepang yang paling mashyur -- Karate --. Berlatar pada tahun 1932 saat Jepang menguasai Manchuria, beberapa oknum militer Jepang mulai menggusur dojo-dojo karate untuk kepentingan mereka sendiri. Di tengah-tengah gejolak tersebut, seorang master karate dari dojo Shibahara  meneruskan sebuah tradisi turun temurun, yaitu menurunkan kuro obi  kepada muridnya yang dianggap layak untuk meneruskan alirannya. Film ini dibintangi tiga orang yang merupakan praktisi karate di kehidupan nyata mereka. Yagi Akihito , yang berperan sebagai Giryu, merupakan calon penerus dari Meibukan , sebuah cabang karate aliran Goju-Ryu. Kakek Yagi Akihito di kehidupan nyata merupakan murid langsung dari Chogun   Miyagi , pendiri karate Goju Ryu . Yagi sekarang memegang godan (V-Dan) dan merupakan ketua International Meibukan Goju Ryu Kara...